Satu demi satu anak tangga ia turuni hati-hati. Wajahnya penuh kerutan, berjalan dengan tergopoh-gopoh berusaha menyingkronkan langkahnya, lengan kanannya melipat, dan tangannya membengkok. Sosoknya ini terlihat dari kejauhan pandangan mata saya, hanya seorang diri dan tidak membawa apapun, kecuali sehelai karcis kereta dan ponsel yang ia kantongi. Perlahan-lahan langkahnya semakin mendekat menuju saya dan dua teman saya Nina dan Shifa berdiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar