Minggu, 18 November 2012

"Kepala Dua"


“Sudah kepala dua masih saja seperti anak kecil.” Kata ibu sambil mencuci piring-piring kotor bekas makan malam.

Ya, umurku sudah 20 tahun pada awal September lalu. Aku  sudah semakin tua. Harusnya semakin dewas, ini malah semakin sering menjadi sasaran empuk kata-kata pedas ibu. Aku masih konyol, masih egois, masih suka merengek, masih suka bertengkar dengan ke-2 adikku karena hal-hal sepele.

“Sebentar lagi kamu menikah dan akan menjadi seorang istri, masa tetap begitu?” kata ibu waktu merapikan piring-piring ke rak.

Ya, pacar saja aku tak punya, malas untuk membahas hal sesensitif itu, tidak ada habisnya. Mungkin lebih dari 1000 episode bila ku sinetronkan kisah cintaku. Selalu berujung kata “galau”. Sampai aku mencoba acuh pada mereka yang katanya sayang aku karena takut “galau”. Aku belum mampu untuk mengalah, belum siap utuk melangkah menuju komitmen yang lebih serius. “Belum siap bu!”

“Wanita itu pasti jadi ibu, harus banyak berkorban!” kata ibu sambil berjalan menuju dapur.

Ya, berkorban itu masih terlalu tinggi untuk aku lakukan! Masak saja yang akan menjadi tugas sebagai ibu masih belum bisa aku lakukan. Masih bingung mana “pedas” dan mana “ketumbar”  keduanya terlihat sama, sama-sama bulat dan sama-sama membingungkan. Ditambah lagi campuran bau bawang merah dan bawang putih yang menyengat setiap aku ke dapur, ini membuatku semakin malas untuk  belajar memasak. Mungkin belum terbiasa dengan semuanya.
Aku ini wanita, sudah berusia 20 tahun,aku sadar itu! Sudah masuk dewasa awal secara psikologi, aku juga mengerti kodrat menjadi seorang wanita seperti apa!

Hay ibu, aku akan berubah layaknya seperti dirimu, yang sabar,tabah, dewasa, cantik, suka mengalah, rajin solat, sayang keluarga, banyak berkorban, tidak pernah mengeluh.

Tapi melakukan tak semudah bicara, ada proses di setiap lobus kiri dan kanan otakku juga hatiku untuk bisa beradaptasi dengan umurku, menjadi wanita seutuhnya dan tugasnya itu memang tak mudah. Tapi yakinlah, aku berniat menjadi sepertimu, kamu yang selalu melontarkan kata-kata pedas yang dapat menampar hati sampai isi kepalaku. Menjadi sepertimu, ibu dari 3 orang anaknya dan menjadi istri yang patuh pada suaminya. Tunggulah waktunya, pasti aku buktikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar