“Sudah kepala dua masih saja seperti
anak kecil.” Kata ibu sambil mencuci piring-piring kotor bekas makan malam.
Ya, umurku sudah 20 tahun pada
awal September lalu. Aku sudah semakin
tua. Harusnya semakin dewas, ini malah semakin sering menjadi sasaran empuk
kata-kata pedas ibu. Aku masih konyol, masih egois, masih suka merengek, masih
suka bertengkar dengan ke-2 adikku karena hal-hal sepele.
“Sebentar lagi kamu menikah dan
akan menjadi seorang istri, masa tetap begitu?” kata ibu waktu merapikan
piring-piring ke rak.
Ya, pacar saja aku tak punya,
malas untuk membahas hal sesensitif itu, tidak ada habisnya. Mungkin lebih dari
1000 episode bila ku sinetronkan kisah cintaku. Selalu berujung kata “galau”.
Sampai aku mencoba acuh pada mereka yang katanya sayang aku karena takut
“galau”. Aku belum mampu untuk mengalah, belum siap utuk melangkah menuju
komitmen yang lebih serius. “Belum siap bu!”
“Wanita itu pasti jadi ibu, harus
banyak berkorban!” kata ibu sambil berjalan menuju dapur.
Ya, berkorban itu masih terlalu
tinggi untuk aku lakukan! Masak saja yang akan menjadi tugas sebagai ibu masih
belum bisa aku lakukan. Masih bingung mana “pedas” dan mana “ketumbar” keduanya terlihat sama, sama-sama bulat dan
sama-sama membingungkan. Ditambah lagi campuran bau bawang merah dan bawang
putih yang menyengat setiap aku ke dapur, ini membuatku semakin malas untuk belajar memasak. Mungkin belum terbiasa dengan
semuanya.
Aku ini wanita, sudah berusia 20
tahun,aku sadar itu! Sudah masuk dewasa awal secara psikologi, aku juga
mengerti kodrat menjadi seorang wanita seperti apa!
Hay ibu, aku akan berubah
layaknya seperti dirimu, yang sabar,tabah, dewasa, cantik, suka mengalah, rajin
solat, sayang keluarga, banyak berkorban, tidak pernah mengeluh.
Tapi melakukan tak semudah bicara, ada proses di setiap lobus kiri dan kanan otakku
juga hatiku untuk bisa beradaptasi dengan umurku, menjadi wanita seutuhnya dan
tugasnya itu memang tak mudah. Tapi yakinlah, aku berniat menjadi sepertimu,
kamu yang selalu melontarkan kata-kata pedas yang dapat menampar hati sampai
isi kepalaku. Menjadi sepertimu, ibu dari 3 orang anaknya dan menjadi istri
yang patuh pada suaminya. Tunggulah waktunya, pasti aku buktikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar