Ada yang beda dari hari ini, biasanya kalau punya niat untuk "pulang" kerumah saya seneng banget. sesibuk dan sepadat apapun jadwal dikampus pasti ada usaha buat putar otak berpikir keras untuk cari alasan buat "Pulang". iya "pulang", "pulang" ke rumah lepas kangen bareng keluarga, ketemu Bapak, Ibu, Arin (adik pertama) dan Nazmi (adik kedua). Biasanya saya sempatin waktu untuk "Pulang" setiap hari jumat setelah selesei kuliah. lumayan 2 hari di rumah itu rasanya lepas beban dari tumpukan tugas dan segudang laporan di kampus, bisa seharian tidur di kasur favorit dan ketemu bantal lepek kesayangan sambil nonton acara Tv, ya meski tiap pagi harus kerja rodi untuk bantu ibu beres-beres rumah yang menurut saya sih gak bakal ada beresnya. tetap suka dirumah walau hampir tiap waktu dengar ibu marah-marah karena kesel sama hasil kerja saya yang gak pernah bener di matanya.
Beda dengan kemarin yang saya rasakan (21/11/2012) , entah kenapa sangat males buat langkahkan kaki untuk beranjak dari pintu gerbang kosan, berat sekali. sebenernya kemarin Nina sama Nule udah ajak saya untuk pulang bareng, tapi malas rasanya. tidak mau pulang, tidak kangen mereka. entahlah, kenapa saya berubah menjadi se-arogan ini.
padahal teman-teman di kosan sudah pada mudik pulang kempungnya masing-masing, dan kosan tampak lebih horor dari hari-hari biasanya. itu tetep gak bikin saya buat merubah pikiran untuk tetap tinggal bertahan dan gak mau pulang.
Akhirnya hari ini, keadaan financial-lah yang bikin saya untuk mengharuskan "pulang" ke rumah, ke "rangkasbitung" kota kecil tempat saya mengenal hidup dan menyimpan banyak cerita. selapas shalat dhuhur saya bersiap-siap rapikan laptop dan bawa buku-buku referensi dan berniat bakal kerjakan tugas KTI dirumah, semua saya masukan ke dalam ransel hitam hingga melembung seperti perut ibu hamil karena beban yang over. pergi ke station "Serang". baru masuk ke pintu gerbang station, mata lansung lihat fokus ke loket tempat beli tiket yang teryata masih tutup dan dituntut harus menunggu lebih lama lagi.
Sampai akhirnya speaker station bunyi nyaring teriak-teriak di telinga berikan informasi tentang keberangkatan kereta Merak-Jakarta.
"Mohon perhatian! Mohon perhatian! ada keterlambatan untuk pemberangkatan kereta Merak-Jakarta! keberangkatan tertunda 2 jam!"
saya reflek liat jam bulat hitam ditangan. jarum pendek hampir mengarah ke angka 4 dan jarum panjang tepat berada di angka 6.
Malas saya menunggu sesuatu yang tidak pasti, yang belum tentu tepat kapan kereta itu datang. Itu sama saja Harapan Palsu. Gantung!
dan akhirnya second opinion yang saya pilih pulang naik angkotan antar kota. "pulang" dan naik angkutan. heran, jalur yang dipilih gak seperti biasa lewat daerah Pandeglang, tapi malah si sopir membantingkan stirnya ke kiri waktu ada tikungan dan pilih jalan lewat daerah Petir. "jalan alternatif" kata si sopir "biar cepat!"
Entah kenapa, hari ini sepertinya Tuhan punya kejutan, benar-benar gak tertuga dan curiga sedikitpun akan jadi gini. Tanpa saya suruh untuk mengingat otak ini langsung mencari lembar-lembar memori di laci-laci otak tentang jalanan yang saya lewati saat itu.
Ya, memori dari romantisnya perjalanan waktu saya pulang tiap week end untuk pulang kampung rutin bareng dia ketika 2 tahun yang lalu. memori yang paling indah, memori yang paling lengket di kepala, memori yang sulit untuk dihapus, memori waktu dia masih punya saya dan saya masih punya dia.
Jalanan seperti menjadi saksi kalau saya dan dia dulu pasangan. jalanan yang bisa ungkap fakta kalau dulu saya suka dia.
jalanan yang bisa bicara kalau saya dulu pernah bahagia sama dia. jalanan yang terus-terusan bawel cerita tentang dia!
Ya. jalanan yang bikin saya rindu. Rindu dia pada 2 tahun yang lalu.
Sebenernya saya benci untuk ingat ini, gak suka dan sangat benci! Cuma menganiaya hati saja kalau terus-terusan ingat semuanya. ingat dia, ingat cara dia kendalikan si belalang hitam kebanggaannya, ingat cara dia membuat jantung jadi takikardi waktu dia ngebut bonceng.
Dan lagi ada hal yang gak sengaja mendukung saya untuk makin mengingat dan jadi tambah terpuruk tambah menderita. ya! playlist musik tiba-tiba memutar lagu Sheila On Seven - "Hari Bersamanya". Itu lagu yang kita suka waktu (belum) berakhir! Ingat itu?
"Pulang" bawa paksa saya untuk ingat dia! dia yang sekarang sedang sibuk bahagia menata masa depannya dengan (bukan) saya :'(
*mohon maaf ini sesi panggalauan*